Dinkes Lumajang Ingatkan Risiko Kekurangan Iodium bagi Tumbuh Kembang Anak
LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Kecukupan iodium selama kehamilan hingga masa anak usia dini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan keluarga untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang mengingatkan masyarakat bahwa kekurangan zat gizi mikro tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembesaran kelenjar tiroid atau gondok, tetapi juga berpotensi mengganggu perkembangan sejak janin berada dalam kandungan.
Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Lumajang, dr. Rosyidah, menyampaikan bahwa pencegahan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah usia tiga tahun, dan wanita usia subur.
“Gangguan akibat kekurangan iodium bukan hanya berkaitan dengan munculnya gondok. Dampaknya dapat terjadi sejak masa kehamilan dan berlanjut pada berbagai tahapan kehidupan,” ujar Rosyidah, Selasa (13/10/2026).
Iodium dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hormon tiroid. Hormon ini berperan dalam pengaturan metabolisme serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak, terutama selama masa kehamilan dan awal kehidupan anak.
Kekurangan Iodium Berisiko Mengganggu Perkembangan Sejak Kehamilan
Menurut Rosyidah, kekurangan iodium selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk keguguran, kelahiran prematur, dan masalah perkembangan janin. Risiko tersebut menjadikan pemenuhan kebutuhan iodium sebagai bagian penting dari perhatian terhadap kesehatan ibu dan calon bayi.
Dampaknya juga perlu diwaspadai setelah kelahiran. Gangguan fungsi tiroid, termasuk hipotiroid kongenital, dapat memengaruhi kesehatan dan perkembangan anak apabila tidak terdeteksi serta ditangani secara tepat.
Pada anak dan remaja, kekurangan iodium dapat berkaitan dengan pembesaran kelenjar tiroid, gangguan fungsi tiroid, serta hambatan pertumbuhan dan perkembangan kognitif. Sementara itu, pada orang dewasa, kondisi tersebut juga dapat mengganggu fungsi tiroid dan berdampak terhadap kesehatan.
Karena itu, perhatian terhadap kecukupan iodium tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang menunjukkan gejala tertentu. Upaya pencegahan perlu dimulai melalui kebiasaan konsumsi yang tepat dan pemahaman mengenai kebutuhan gizi sesuai tahapan kehidupan.
Memilih Garam Beriodium Menjadi Salah Satu Langkah Pencegahan
Rosyidah menjelaskan bahwa masyarakat dapat memulai pencegahan GAKI melalui langkah sederhana, salah satunya memilih garam beriodium untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, penggunaan garam tetap perlu mengikuti anjuran konsumsi garam yang sehat dan tidak berlebihan.
Pemenuhan iodium juga perlu menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang. Bagi ibu hamil dan menyusui, kebutuhan zat gizi dapat berbeda sesuai kondisi masing-masing, sehingga konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan apabila terdapat pertanyaan mengenai kecukupan asupan.
“Karena itu, pemenuhan kebutuhan iodium harus menjadi perhatian bersama, terutama pada kelompok yang memiliki kebutuhan lebih tinggi. Masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana, seperti lebih cermat memilih garam beriodium untuk kebutuhan sehari-hari. Langkah ini menjadi salah satu bagian dari upaya memenuhi kebutuhan iodium keluarga,” jelasnya.
Dampak & Poin Penting Bagi Warga
- Ibu hamil perlu memperhatikan asupan iodium karena zat gizi ini berperan dalam perkembangan janin, termasuk perkembangan otak.
- Ibu menyusui perlu menjaga kecukupan gizi untuk mendukung kebutuhan nutrisi selama masa menyusui.
- Pilih garam beriodium sesuai ketentuan dengan memeriksa informasi produk pada kemasan dan tetap membatasi konsumsi garam.
- Perhatikan tumbuh kembang anak dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan apabila terdapat kekhawatiran mengenai pertumbuhan atau perkembangan.
- Manfaatkan layanan kesehatan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan, masa menyusui, dan awal kehidupan anak.
Rosyidah menegaskan bahwa pemenuhan gizi, termasuk iodium, merupakan bagian dari investasi kesehatan masyarakat. Peningkatan pemahaman keluarga mengenai kebutuhan zat gizi ini diharapkan membantu mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. (may)
