Wabup Lumajang: Grebeg Suro Jadi Pengingat Pentingnya Lestarikan Budaya dan Jaga Lingkungan

0
Wabup Lumajang: Grebeg Suro Jadi Pengingat Pentingnya Lestarikan Budaya dan Jaga Lingkungan

LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Tradisi Grebeg Suro di Desa Yosowilangun Kidul, Kecamatan Yosowilangun, dinilai tidak hanya menjadi perayaan Tahun Baru Jawa, tetapi juga mengandung nilai pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat gotong royong yang relevan dengan pembangunan daerah.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, saat menghadiri perayaan Grebeg Suro di Desa Yosowilangun Kidul, Sabtu (4/7/2026).

Perayaan tersebut dimeriahkan dengan arak-arakan gunungan hasil bumi, alunan gamelan, hingga pagelaran wayang kulit yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

“Grebeg Suro mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas karunia Tuhan, menjaga kelestarian bumi, serta memperkuat semangat gotong royong. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal penting dalam membangun Kabupaten Lumajang yang semakin maju, harmonis, dan sejahtera,” ujar Yudha.

Grebeg Suro Dinilai Relevan dengan Pembangunan Berkelanjutan

Yudha mengatakan, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, keberhasilan pembangunan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Nilai seperti gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebersamaan dinilai menjadi modal sosial yang memperkuat kehidupan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Ia menambahkan, tradisi Grebeg Suro menjadi sarana pembelajaran lintas generasi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa alam merupakan amanah yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, pelestarian budaya juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat.

TP PKK Ajak Keluarga Tanamkan Cinta Budaya dan Lingkungan

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, mengajak keluarga menjadi tempat pertama dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya dan lingkungan kepada anak-anak.

“Memetri bumi adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam yang kita nikmati. Sedangkan nguri-uri budaya Jawa merupakan tanggung jawab bersama agar nilai sopan santun, gotong royong, dan kebersamaan tetap hidup di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Menurut Dewi Natalia, keluarga memiliki peran strategis dalam mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda. Pembiasaan sejak dini untuk mencintai lingkungan, menghargai tradisi, dan menjunjung semangat gotong royong akan membentuk karakter anak yang peduli terhadap sesama maupun alam.

Tradisi Grebeg Suro Terus Dijaga Masyarakat

Dewi Natalia juga mengapresiasi masyarakat Desa Yosowilangun Kidul yang tetap mempertahankan Grebeg Suro sebagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Ia menilai keberlangsungan budaya tidak bergantung pada kemeriahan acara, melainkan pada komitmen masyarakat untuk terus merawat dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Bagi masyarakat Desa Yosowilangun Kidul, Grebeg Suro bukan sekadar penanda pergantian Tahun Baru Jawa. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan akan lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan pelestarian budaya, kelestarian lingkungan, dan penguatan semangat gotong royong sebagai identitas masyarakat Lumajang. (may)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *