Angkut 19 Ton Sampah dari Pantai Watu Pecak, Bupati Lumajang Pimpin Aksi Bersih-Bersih Pasca-Festival
LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Riuh tepuk tangan ribuan pasang mata perlahan memudar seiring berakhirnya puncak Pagelaran Sendra Tari Segoro Topeng Kaliwungu 2026 di Pantai Watu Pecak, Kecamatan Pasirian, Minggu (28/6/2026).
Namun, ketika gelombang pengunjung mulai bergerak meninggalkan area pesisir, denyut aktivitas di salah satu destinasi wisata unggulan Kabupaten Lumajang ini nyatanya belum benar-benar usai.
Di bawah temaram cahaya lampu pantai, sebuah gerakan komunal langsung digulirkan. Petugas kebersihan, barisan relawan, panitia pelaksana, perwakilan komunitas, hingga warga lokal tampak menyisir setiap sudut bibir pantai.
Mereka bergerak sigap memungut sisa sampah yang tertinggal, mengumpulkannya ke dalam kantong-kantong besar, dan memastikan kawasan konservasi wisata tersebut kembali steril sebelum hari berganti.
Aksi peduli lingkungan ini diinisiasi langsung oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma. Sesaat setelah panggung kolosal resmi ditutup, duet pemimpin daerah tersebut langsung turun ke pasir pantai untuk memimpin draf gerakan gotong royong, yang kemudian dilanjutkan oleh armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hingga larut malam.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang, Hertutik, membeberkan bahwa tingginya antusiasme penonton pada ajang yang masuk kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini berbanding lurus dengan lonjakan volume sisa konsumsi harian di lapangan.
Berdasarkan indikator data penimbangan tim DLH, total sampah yang berhasil dievakuasi dari Pantai Watu Pecak menembus angka fantastis, yakni mencapai 19 ton.
Rincian Volume Sampah Selama Dua Hari Festival
Proses pengangkutan logistik kebersihan ini dilakukan secara berkala guna mencegah terjadinya penumpukan sisa material organik maupun plastik di bibir pantai. Hertutik memaparkan rincian tonase sampah yang diproduksi selama festival berlangsung:
-
Hari Pertama (Sabtu): Petugas mengamankan dan mengangkut sekitar 3,5 ton sampah dari sisa aktivitas bazar serta penonton awal.
-
Hari Kedua/Puncak Acara (Minggu): Volume sampah melonjak drastis hingga menyentuh angka 15,5 ton seiring membludaknya massa penonton tarian kolosal.
“Petugas kami tetap bekerja hingga malam hari agar sampah tidak menumpuk dan kawasan Pantai Watu Pecak segera kembali bersih. Kami juga mendapat dukungan dari relawan, panitia, komunitas, dan masyarakat yang ikut bergotong royong setelah acara selesai,” urai Hertutik dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).
Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
Hertutik menambahkan, aksi bersih siber di pesisir selatan ini bukan sekadar juknis pembersihan berkala pasca-acara publik. Gerakan kolektif ini sekaligus menjadi momentum refleksi dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, yang menekankan pentingnya aksi nyata restorasi alam dari setiap individu masyarakat.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, melayangkan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pejuang kebersihan dan relawan yang rela bersimbah peluh hingga tengah malam demi memulihkan keasrian Watu Pecak.
Bupati yang akrab disapa Bunda Indah ini menegaskan bahwa indikator kesuksesan sebuah festival daerah tidak boleh hanya diukur dari kemegahan panggung siber, tata lampu, atau jutaan impresi di media sosial. Budaya merawat kebersihan lingkungan pasca-acara justru menjadi cerminan sejati dari matangnya peradaban sebuah daerah.
Lewat keterpaduan komitmen ini, Segoro Topeng Kaliwungu 2026 sukses menyisakan warisan berharga di luar urusan seni pertunjukan. Festival ini membuktikan secara nyata bahwa denyut nadi perekonomian pariwisata, pelestarian seni tradisi, dan manajemen perlindungan ekologi dapat berjalan beriringan secara seimbang demi mewujudkan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) di Kabupaten Lumajang. (may)
