Teror Monyet Liar, Begini Cara Pemkab Lumajang Mengatasinya
LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Eskalasi serangan monyet liar yang menjarah wilayah perkebunan warga kian meresahkan dan mengancam produktivitas pertanian di Kabupaten Lumajang.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mulai menerapkan draf taktis pengendalian hama yang terbukti efektif untuk meredam keganasan kawanan primata tersebut.
Praktik baik (best practice) yang sukses menjinakkan serangan monyet di Desa Tunjung, Kecamatan Gucialit, kini resmi dijadikan acuan juknis penanganan komparatif secara massal di kecamatan-kecamatan lain yang menghadapi kendala serupa.
Langkah perluasan program ini merupakan hasil keputusan dari Rapat Koordinasi Penanggulangan Serangan Monyet yang digelar jajaran eksekutif Pemkab Lumajang, Senin (29/6/2026). Rapat tersebut digelar menyusul meningkatnya sirkulasi laporan dari kelompok tani terkait kerusakan parah pada komoditas holtikultura akibat penyerbuan kawanan monyet dari kawasan hutan.
Kepala DKPP Kabupaten Lumajang, Retno Wulan Andari, memaparkan bahwa pemerintah daerah memilih pendekatan ramah lingkungan yang mengombinasikan kreativitas lokal dan efisiensi biaya ketimbang metode pemusnahan radikal.
“Kelompok tani yang wilayahnya terkena serangan monyet kami dorong mengadopsi upaya pencegahan dan pengusiran yang sudah diterapkan petani di Desa Tunjung. Pendampingan juga akan terus dilakukan melalui penyuluh pertanian agar metode yang diterapkan sesuai dengan kondisi di lapangan,” urai Retno Wulan.
Ramuan Terasi dan Teknik Blongsong Jadi Senjata Utama
Berdasarkan hasil uji coba lapangan yang dikurasi oleh penyuluh bersama para petani Desa Tunjung, terdapat beberapa ragam teknik sederhana namun jitu yang terbukti mampu membuat kawanan monyet jera dan menjauhi area perkebunan:
-
Ramuan Aromatik Terasi dan Kapur Barus: Campuran kedua bahan ini ditumbuk kasar, dibungkus menggunakan kain kasa, lalu digantung di ranting pohon yang menjadi jalur lintasan utama monyet. Aroma menyengat yang dihasilkan dinilai mengganggu sensitivitas penciuman primata tersebut.
-
Sistem Blongsong Kantong Bekas: Membungkus buah pisang yang hampir matang menggunakan kantong plastik bekas kemasan pakan ternak tebal, kemudian diikat kuat menggunakan kawat bendrat agar tidak mudah dicabik.
-
Pemasangan Jaring Pelindung: Membentengi sekeliling area kebun perimeter dengan jaring nilon setinggi lompatan monyet.
-
Pemberian Indikator Merah: Memasang penanda visual berwarna merah mencolok pada batang tanaman pisang untuk memicu efek kewaspadaan alami pada kelompok monyet.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Lumajang mencatat bahwa kombinasi antara ramuan terasi kapur barus serta pembungkusan buah (blongsong) menyumbang persentase penurunan angka kerusakan tanaman paling signifikan di lahan percontohan.
Optimalisasi Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Gucialit, Subhan Yusuf, mengingatkan bahwa kawanan monyet memiliki kecerdasan komunal yang dinamis, sehingga juknis penerapan metode di setiap desa harus fleksibel dan disesuaikan dengan pola perilaku serangan setempat. Oleh karena itu, kehadiran PPL di tengah kelompok tani sangat krusial untuk melakukan supervisi berkala.
Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap skema replikasi dari Desa Tunjung ini bisa segera ditiru secara serentak oleh para petani di lereng Argopuro maupun Semeru yang kerap menjadi sasaran empuk penjarahan. Melalui deteksi dini, penguatan solidaritas antar-kelompok tani, serta pendampingan siber sirkulasi data hama yang berkelanjutan, stabilitas produktivitas pangan daerah diharapkan tetap kokoh sekaligus meminimalkan potensi kerugian finansial para petani Lumajang. (may)
