Sulap Pare Pahit Jadi Keripik Gurih, Ibu Rumah Tangga di Senduro Lumajang Sukses Tembus Pasar UMKM
LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Bagi sebagian besar orang, pare sering kali dihindari karena cita rasanya yang identik dengan rasa pahit yang pekat. Namun, di tangan Nur Sulihati, sayuran hijau ini justru bermutasi menjadi camilan renyah bernilai ekonomis tinggi lewat label usahanya, Keripik Pare NaRan.
Inovasi pangan kreatif ini lahir dari melimpahnya hasil bumi di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Berada di kawasan lereng Gunung Semeru yang berhawa sejuk, desa ini memang kesohor sebagai salah satu lumbung hortikultura di Lumajang, tempat di mana berbagai jenis sayuran—termasuk pare—tumbuh dengan sangat subur.
Perempuan yang akrab disapa Hana ini bercerita, ide bisnis tersebut muncul secara tidak sengaja pada tahun 2023. Saat itu, ia bingung menyiasati sisa hasil panen kebunnya yang tak habis jika hanya mentok diolah sebagai menu sayur meja makan rumahan.
“Awalnya dulu cuma panen saja karena sudah terlanjur menanam. Selanjutnya saya berpikir enaknya diapakan,” kenang Hana, Selasa (2/6/2026).
Didorong rasa penasaran untuk mendongkrak nilai tambah (value added) komoditas lokal, Hana mencoba memotong pare dengan irisan super tipis, melumurinya dengan racikan bumbu rahasia, lalu menggorengnya hingga kering berkristal. Alhasil, formula trial-error tersebut langsung ludes di piring rumahnya.
“Setelah saya menggoreng menjadi keripik, ternyata satu rumah doyan semua. Berarti bisa diterima lidah,” ujarnya tersenyum mengingat awal mula merintis usaha dari dapur sederhana.
Andalkan Bahan Baku Lokal, Dijual Rp12 Ribu per Bungkus
Mendapat lampu hijau dari testimoni keluarga dan kerabat terdekat, Hana memberanikan diri naik kelas ke ranah komersial. Guna menjaga kualitas rasa, ia berkomitmen 100 persen untuk hanya menyerap bahan baku pare segar yang dipetik langsung dari lahan pertanian para tetangga di sekitar Senduro.
Saat ini, renyahnya Keripik Pare NaRan dikemas secara modern dengan ukuran pouch 100 gram dan dibanderol dengan harga yang sangat ramah di kantong, yakni Rp12.000 per bungkus. Camilan ini sukses memikat konsumen karena berhasil menjinakkan rasa pahit pare menjadi sensasi gurih-kriuk yang bikin nagih.
Bagi lanskap ekonomi mikro di Lumajang, geliat bisnis yang ditekuni Hana bukan lagi sekadar urusan mencari margin keuntungan semata. NaRan telah bertransformasi menjadi role model sukses bagaimana sebuah kreativitas lokal mampu menyelamatkan harga komoditas pertanian yang rentan anjlok saat panen raya.
Inovasi dari lereng Semeru ini menjadi bukti autentik bahwa di tangan pelaku UMKM yang jeli dan tekun, potensi mentah pedesaan bisa diubah menjadi produk camilan favorit yang bernilai jual tinggi sekaligus berkelanjutan. (may)
