Piodalan Pura Mandara Giri Semeru Agung 2026: Refleksi Tri Hita Karana dan Episentrum Harmoni Lintas Agama di Senduro
LUMAJANG (mediacenterlumaajng.com) – Kabut tipis khas pegunungan dan semburat fajar di balik kemegahan Gunung Semeru menyambut kedatangan ribuan umat Hindu dari berbagai penjuru nusantara.
Berbusana adat serba putih dengan membawa canang sari, bunga, dan dupa, para peziarah perlahan memadati pelataran Pura Mandara Giri Semeru Agung, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Alunan lembut kidung suci yang berpadu dengan denting genta memecah keheningan pagi, menciptakan atmosfer spiritual yang magis dan sarat kedamaian. Pemandangan khidmat ini menjadi bagian dari rangkaian upacara ritual Piodalan (peringatan hari jadi pura) yang diselenggarakan secara berkala mulai 29 Mei hingga puncak penutupannya pada 10 Juli 2026.
Pura yang berdiri kokoh sejak tahun 1992 ini tidak hanya menjadi magnet religi bagi umat Hindu dari Bali, Tengger, Jember, Banyuwangi, hingga wilayah Jawa Timur lainnya. Lebih dari itu, Pura Mandara Giri Semeru Agung telah bertransformasi menjadi ruang perjumpaan budaya sekaligus simbol toleransi berskala nasional yang hidup di akar rumput.
Aktualisasi Filosofi Tri Hita Karana
Sesuai juknis ritual keagamaan, rangkaian piodalan tahun ini diawali dengan prosesi Matur Piuning, dilanjutkan dengan penyucian tirta melalui upacara Melasti, hingga memasuki fase puncak karya yakni Tawur Panca Wali Krama. Pengurus Harian Pura Mandara Giri Semeru Agung, Wira Dharma, menjelaskan bahwa draf upacara ini digelar dalam tiga tingkatan periodik, yaitu siklus tahunan, lima tahunan, dan sepuluh tahunan dengan tata upacara warisan leluhur yang terjaga keasliannya.
“Ini merupakan wujud dari rasa syukur kami terhadap alam semesta yang telah memberikan berkah kepada kita semua,” urai Wira Dharma.
Di balik kemegahan estetikanya, esensi terdalam dari Piodalan ini bermuara pada penguatan filosofi Tri Hita Karana. Ajaran luhur ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati dan ketenteraman hidup manusia hanya akan tercapai secara seimbang apabila mampu merawat hubungan harmonis dalam tiga aspek:
-
Parhyangan: Hubungan yang selaras antara manusia dengan Sang Pencipta (Tuhan).
-
Pawongan: Hubungan yang harmonis dan penuh empati antar-sesama manusia.
-
Palemahan: Hubungan yang bijak dalam menjaga kelestarian alam lingkungan sekitar.
Filosofi ini dinilai kian relevan di tengah disrupsi modernisasi siber, di mana kemajuan daerah tidak boleh hanya ditakar dari indikator pertumbuhan ekonomi makro murni, melainkan wajib menyertakan indeks ketahanan moral dan kedewasaan sosial.
Senduro: Laboratorium Toleransi dan Penyokong UMKM Desa
Wira Dharma menggarisbawahi bahwa warisan terbesar dari eksistensi pura di lereng Semeru ini bukanlah ramainya arus kunjungan semata, melainkan potret kebersamaan dan kerukunan beragama (interfaith harmony) yang telah mengakar kuat.
“Ini bentuk keberagaman agama yang saling berdampingan,” tegasnya. Ketika ritual Piodalan berlangsung, warga sekitar yang mayoritas Muslim ikut ambil bagian secara swadaya untuk mengamankan area, mengatur rekayasa arus lalu lintas, hingga menyambut para pemudik spiritual layaknya keluarga besar Lumajang.
Tidak hanya mempertebal modal sosial, magnet ritual tahunan ini terbukti memberikan dampak ekonomi langsung (multiplier effect) bagi warga desa. Okupansi penginapan dan homestay melonjak tajam, warung-warung kuliner lokal dipadati pembeli, serta para pedagang bunga, perlengkapan sembahyang, dan pelaku UMKM sektor informal panen omzet harian.
Melalui perpaduan antara kesucian ritual, keteguhan merawat tradisi, dan tingginya rasa hormat atas perbedaan, Senduro sukses mengirimkan pesan damai bagi Indonesia. Di kaki Gunung Semeru, toleransi tidak lagi sekadar menjadi draf pidato seremonial, melainkan telah mewujud sebagai jalan hidup komunal yang menyejahterakan dan menenteramkan semesta. (may)
