Konsumsi Biosolar di SPBU Lumajang Alami Lonjakan, Ini Penyebabnya
LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Memasuki puncak musim panen tebu, dinamika sektor pertanian di Kabupaten Lumajang menunjukkan tren pergerakan yang sangat masif.
Melonjaknya produktivitas ladang tebu di berbagai wilayah berbanding lurus dengan meningkatnya volume permintaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat.
Peningkatan serapan energi ini dinilai sebagai indikator positif yang mencerminkan bergairahnya aktivitas ekonomi riil masyarakat, terutama di sektor perkebunan dan transportasi logistik hasil bumi. Kendaraan truk angkutan sarat muatan kini intens berlalulintas menghubungkan area lahan tebu menuju pabrik-pabrik pengolahan gula.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Lumajang, Aksanul Inam, memaparkan bahwa lonjakan grafik konsumsi Biosolar sudah mulai terdeteksi sejak awal bergulirnya musim tebang tebu pada Mei 2026. Tingginya mobilitas armada angkutan tersebut otomatis membuat pasokan di lapangan memerlukan perhatian ekstra.
“Musim panen tebu menjadi salah satu faktor bertambahnya kebutuhan Biosolar karena aktivitas angkutan hasil panen juga meningkat. Kondisi ini terus kami pantau bersama Pertamina agar distribusi BBM tetap berjalan dengan baik,” urai Aksanul Inam dalam keterangan resminya, Jumat (26/6/2026).
Menjamin Kelancaran Distribusi Hulu ke Hilir
Aksanul menerangkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lumajang tidak melihat fenomena kenaikan konsumsi energi ini sebagai suatu masalah kelangkaan, melainkan sebuah sinyal pertumbuhan produktivitas. Tersedianya pasokan Biosolar yang aman dan stabil merupakan urat nadi utama untuk menjamin kelancaran rantai pasok agar tebu yang telah dipanen tidak telat dikirim dan mengalami penurunan kualitas kadar rendemen.
Guna mengantisipasi terjadinya antrean panjang kendaraan angkutan di area SPBU, tim pemda secara rutin menggelar inspeksi siber dan monitoring berkala ke sejumlah titik stasiun pengisian. Langkah ini krusial sebagai juknis pengumpulan data riil untuk dikoordinasikan langsung bersama pihak PT Pertamina (Persero).
“Kelancaran distribusi BBM menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas petani hingga proses pengiriman hasil panen ke pabrik pengolahan,” katanya.
Sinergi Pengawasan Bersama Pengelola SPBU
Melalui skema pengawasan yang terintegrasi, Pemkab Lumajang dapat melacak dengan cepat wilayah kecamatan mana saja yang mengalami lonjakan permintaan ekstrem. Deteksi dini ini mempermudah manajemen stok di SPBU untuk mengajukan penambahan kuota harian secara instan sebelum terjadi kekosongan pasokan.
Pemda berharap koordinasi tripartit yang kokoh antara jajaran eksekutif, Pertamina, dan para pemilik usaha SPBU dapat terus terjaga dengan solid di sisa musim panen tahun ini. Jaminan ketersediaan energi yang tepat sasaran diproyeksikan mampu menjaga ritme kerja para petani tebu, menstabilkan harga komoditas pangan daerah, serta menjaga laju pertumbuhan ekonomi siber di Kabupaten Lumajang tetap bergerak stabil dan menguntungkan. (may)
