Sischamling Juara Lumajang Innovation Award, Sulap Limbah Organik Jadi Cacing dan Pupuk Kascing

0
Sischamling Juara Lumajang Innovation Award, Sulap Limbah Organik Jadi Cacing dan Pupuk Kascing

LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Inovasi pengelolaan limbah organik berbasis budidaya cacing bernama Sistem Pertanian Terintegrasi Berbasis Cacing Ramah Lingkungan (Sischamling) meraih juara dalam ajang Lumajang Innovation Award. Penghargaan ini menandai menguatnya inovasi riset terapan yang mengandalkan potensi lokal untuk menjawab kebutuhan ekonomi sekaligus isu lingkungan.

Sischamling yang digagas Komunitas Sischamling mengolah limbah organik rumah tangga serta sisa hasil pertanian menjadi pakan utama budidaya cacing. Skema ini diarahkan untuk menekan biaya produksi, sekaligus menerapkan konsep ekonomi sirkular—limbah diproses kembali agar bernilai guna.

Ketua Tim Komunitas Sischamling, Dr. dr. Imanurdin. A, M.Kes., menjelaskan sistem yang dikembangkan berjalan secara terintegrasi, mulai dari pengumpulan bahan organik, proses budidaya, hingga pengolahan dan pemasaran hasil. Dari proses tersebut, dihasilkan dua komoditas sekaligus, yakni cacing untuk bahan baku pakan ternak dan perikanan, serta kascing (vermikompos) sebagai pupuk organik.

“Nilai unggulnya terletak pada integrasi sistem. Kami tidak hanya memproduksi cacing, tetapi juga mengoptimalkan hasil samping berupa pupuk organik yang mendukung pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, budidaya cacing dinilai mudah dikembangkan karena siklus produksinya relatif cepat dan tidak membutuhkan lahan luas. Model ini memungkinkan diterapkan pada skala rumah tangga maupun kelompok. Sementara dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah organik berkontribusi mengurangi volume sampah dan mendorong penggunaan pupuk organik untuk pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Imanurdin menambahkan, program ini dirancang sekaligus sebagai pendekatan pemberdayaan. Warga dilibatkan dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, sampai distribusi produk, sehingga manfaatnya tidak hanya pada peningkatan pendapatan tetapi juga keterampilan.

“Kami ingin memastikan inovasi ini tidak berhenti pada level kompetisi, tetapi berkembang menjadi model usaha yang berkelanjutan dan bisa direplikasi,” katanya.

Dukungan juga datang dari pemerintah desa. Kepala Desa Tukum, Susanto (Cak Santo), menyebut inovasi berbasis sumber daya lokal seperti Sischamling berpotensi menjadi penguat ekonomi desa karena mendorong produktivitas dan pemanfaatan potensi setempat.

Keberhasilan Sischamling di tingkat kabupaten diharapkan menjadi pintu masuk pengembangan agribisnis inovatif yang adaptif terhadap kebutuhan pasar.

Dengan menggabungkan aspek produksi, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan warga, Sischamling menunjukkan bahwa teknologi sederhana yang dikelola secara sistematis dapat menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi desa yang berkelanjutan. (may)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *