Prevalensi Stunting di Lumajang Turun Berkat Inovasi Program OMZ
Lumajang (mediacenterlumajang.com) – Kabar menggembirakan datang dari Kabupaten Lumajang. Berkat usaha bersama yang kuat, prevalensi stunting di wilayah ini berhasil merosot dari 29 persen menjadi 23,4 persen.
Data terbaru ini bukan hanya menandai keberhasilan sektor kesehatan, tetapi juga menunjukkan kemajuan dalam intervensi lintas sektor antara pemerintah daerah, desa, dan masyarakat.
Dalam rangka mempertahankan pencapaian ini dan meningkatkan penanganan stunting hingga ke tingkat keluarga, Pemerintah Kabupaten Lumajang meluncurkan Program OMZ (Omah Pemulihan Gizi) di Panti PKK Kabupaten Lumajang.
Program inovatif ini dirancang sebagai pusat rehabilitasi gizi berbasis komunitas, yang bertujuan untuk menjadi model layanan komprehensif bagi desa-desa, terutama dalam hal deteksi dini dan penanganan risiko stunting.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, atau yang akrab disapa Bunda Indah, berkomitmen bahwa keberhasilan yang diraihnya saat ini tidak lepas dari partisipasi seluruh pemangku kepentingan.
“Penurunan dari 29 persen menjadi 23,4 persen adalah capaian besar. Namun angka ini belum cukup. Kita harus memastikan anak-anak Lumajang mendapatkan kesempatan tumbuh optimal tanpa hambatan stunting. Ini bagian dari kerja besar menyiapkan generasi masa depan,” ungkapnya.
Meskipun mengalami penurunan, Lumajang masih tercatat memiliki tingkat prevalensi stunting yang cukup tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh dan agresif. Program OMZ diciptakan untuk memenuhi kebutuhan ini dengan menawarkan berbagai layanan, mulai dari pemulihan gizi balita berisiko hingga edukasi mengenai gizi dan kesehatan bagi keluarga.
Program OMZ sebelumnya sudah diuji coba di Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, pada tahun 2024. Evaluasi awal menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepatuhan keluarga terhadap pola makan sehat serta percepatan pemulihan gizi anak.
Menyusul keberhasilan ini, tahun ini Pemkab telah memperluas program ke lima desa tambahan: Sumberurip (Pronojiwo), Pandanarum (Tempeh), Mangunsari (Tekung), Klakah (Klakah), dan Randuagung (Randuagung).
Dengan melibatkan desa sebagai unit utama, diharapkan intervensi gizi dapat dilakukan secara langsung dalam lingkungan keluarga, sekaligus mengurangi ketergantungan pada fasilitas kesehatan formal.
“Dengan OMZ, kami berharap semua desa mampu memberikan penanganan cepat dan tepat terhadap masalah gizi. Ketika desa kuat, maka angka stunting pasti bisa ditekan secara merata,” tambah Bunda Indah.
Pemerintah Kabupaten Lumajang menargetkan penurunan angka stunting secara lebih agresif dalam dua tahun mendatang, dengan memperkuat sinergi antar sektor seperti kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, pertanian, hingga pemberdayaan perempuan.
Dengan kolaborasi yang komprehensif ini, Pemkab optimis dapat mewujudkan target Lumajang bebas stunting secara bertahap. (may)
