Dewi Natalia: Orang Tua Perlu “Berdamai” Lebih Dulu agar Pendampingan Anak Istimewa Tepat Arah

0
Dewi Natalia: Orang Tua Perlu “Berdamai” Lebih Dulu agar Pendampingan Anak Istimewa Tepat Arah

Lumajang (mediacenterlumajang.com) – Ketua TP PKK Kabupaten Lumajang Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma menilai langkah pertama yang paling menentukan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus adalah penerimaan orang tua. Ia menyebut, ketika orang tua sudah menerima kondisi anak secara utuh, cara pandang akan bergeser dari fokus pada keterbatasan menuju pembacaan potensi dan kebutuhan anak.

Pesan itu disampaikan Dewi Natalia pada kegiatan sharing dan penguatan bagi orang tua anak berkebutuhan khusus di Gedung PKK Kabupaten Lumajang, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini diikuti pengurus SLB, TP PKK kabupaten dan kecamatan se-Kabupaten Lumajang, serta para orang tua.

Forum tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Sawitri Retno Hadiati, dr., MQHC dari Surabaya dan Dr. dr. Imannurdin Abdillah, M.Kes., inisiator Lhentera dan Siscamling.

Dewi Natalia menekankan, penerimaan bukan proses yang bisa selesai dalam satu waktu. Ia menyebut proses ini kerap menjadi perjalanan batin yang membutuhkan ketulusan dan dukungan lingkungan. Namun, ketika orang tua sudah “berdamai”, pendampingan akan lebih terarah—bukan lagi didorong oleh rasa takut, melainkan oleh upaya membangun pola asuh yang positif dan konsisten.

“Dengan penerimaan, orang tua dapat membangun pola asuh yang lebih positif, penuh kasih, dan berorientasi pada pengembangan potensi. Anak-anak istimewa memiliki cara sendiri untuk tumbuh dan bersinar,” ujarnya.

Ia juga menilai penerimaan menjadi pintu awal penguatan mental orang tua. Menurutnya, setelah hati lebih lapang, energi yang muncul bukan kelelahan, melainkan semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan berjalan bersama anak dalam proses tumbuh kembangnya.

Melalui forum ini, Dewi Natalia berharap orang tua tidak merasa sendirian. Ia menekankan pentingnya dukungan komunitas, sekolah, dan TP PKK sebagai ruang berbagi dan saling menguatkan agar orang tua lebih percaya diri dalam menjalani peran pendampingan.

Kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa pendampingan anak berkebutuhan khusus tidak berhenti pada bantuan teknis, tetapi dimulai dari sikap menerima dan konsisten hadir dalam setiap langkah kecil anak menuju kehidupan yang lebih bermakna. (may)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *