Kolaborasi Lintas Iman di Senduro Menguat Jelang Nyepi, Warga Muslim Ikut Bangun Ogoh-Ogoh

0
Kolaborasi Lintas Iman di Senduro Menguat Jelang Nyepi, Warga Muslim Ikut Bangun Ogoh-Ogoh

Lumajang (mediacenterlumajang.com) – Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana kebersamaan tampak kuat di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Warga dari berbagai latar belakang agama terlibat langsung dalam proses pembuatan ogoh-ogoh, sebuah tradisi yang menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi.

Pemandangan ini terlihat dari aktivitas warga yang bersama-sama merangkai bambu, menyusun rangka, hingga menempelkan ornamen kertas berwarna. Tidak hanya umat Hindu, warga Muslim juga turut ambil bagian dalam proses tersebut tanpa sekat.

Keterlibatan lintas iman ini menjadi gambaran nyata kehidupan sosial masyarakat Senduro yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Tradisi ogoh-ogoh tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang terbuka bagi semua warga.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, mengatakan bahwa keterlibatan warga Muslim dalam proses ini menunjukkan kuatnya kerukunan di tengah masyarakat.

“Mulai dari proses pembuatan hingga pelaksanaan, kami melihat langsung bagaimana umat Muslim ikut bersama-sama membantu. Ini menunjukkan keguyuban dan kerukunan yang sangat baik di masyarakat,” ujar Budiono dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).

Menurutnya, kebersamaan yang terbangun tersebut berlangsung secara alami tanpa adanya rekayasa atau agenda khusus. Warga hadir dan bekerja sama sebagai bagian dari kehidupan bertetangga yang harmonis.

Menariknya, momentum pembuatan ogoh-ogoh tahun ini berdekatan dengan bulan Ramadan. Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi warga untuk tetap menjaga interaksi sosial yang positif.

Pada siang hari, sebagian warga menjalankan ibadah puasa. Sementara pada sore hingga malam, mereka kembali berkumpul untuk melanjutkan proses pembuatan ogoh-ogoh bersama warga lainnya yang bersiap menyambut Nyepi.

Situasi ini menunjukkan adanya keseimbangan dalam menjalankan aktivitas keagamaan masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain. Tradisi lokal pun berperan sebagai jembatan yang mempertemukan perbedaan tersebut.

Budiono menambahkan, fenomena di Senduro mencerminkan nilai persatuan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Ia menilai praktik seperti ini menjadi contoh nyata bahwa toleransi dapat tumbuh dari aktivitas sehari-hari.

Selain menjadi simbol dalam ritual Nyepi, ogoh-ogoh juga merepresentasikan semangat gotong royong yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Proses pembuatannya menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan sosial antarwarga.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang kerap muncul, kehidupan masyarakat Senduro menawarkan potret berbeda tentang harmoni. Kebersamaan yang terbangun tidak bersifat seremonial, melainkan lahir dari interaksi yang terus terjaga.

Dengan demikian, tradisi ogoh-ogoh di Senduro tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa keberagaman dapat dikelola melalui kolaborasi dan saling menghormati antarwarga. (may)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *