Sumber Takir Jokarto Kembangkan Wisata Mata Air: Legal, Dikelola Pemuda, Dorong UMKM Warga
LUMAJANG (mediacenterlumajang.com) – Wisata mata air Sumber Takir di Desa Jokarto, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, terus dikembangkan dengan konsep yang menekankan kelestarian sumber air dan manfaat ekonomi bagi warga. Kawasan yang ditopang kejernihan air dari Sumber Takir dan Sumber Klampok ini tidak hanya menjadi tujuan rekreasi, tetapi juga ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan.
Pengelolaan kawasan dilakukan di lahan sekitar satu hektare yang berada di Tanah Kas Desa dan telah bersertifikat. Legalitas tersebut menjadi dasar penataan yang lebih terarah, termasuk pengembangan ruang terbuka hijau, jalur pejalan kaki, dan area berkumpul yang tetap mempertahankan fungsi ekologis mata air.
Kondisi kawasan yang teduh ditopang vegetasi peneduh yang membuat suhu tetap sejuk. Penguatan penghijauan juga terus dilakukan, salah satunya melalui penanaman bambu petung yang dinilai membantu menjaga resapan air sekaligus memperkuat struktur tanah di sekitar mata air.
Pj Kepala Desa Jokarto, Oyong Suwasono, menegaskan bahwa pengembangan wisata desa harus berangkat dari prinsip menjaga lingkungan, terutama keberlanjutan sumber mata air.
“Kita ingin wisata ini berkembang tanpa mengorbankan sumber air. Prinsipnya jelas, alam terjaga dan masyarakat merasakan manfaatnya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
Skema pengelolaan wisata dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pemuda desa dan kelompok sadar wisata. Selain menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjung, pola ini juga membuka peluang tumbuhnya usaha mikro masyarakat di sekitar lokasi.
Kepala Dusun Krajan Timur sekaligus Ketua Pengelola Sumber Takir, Yustanto, menyebut pengembangan kawasan dilakukan bertahap sesuai kebutuhan, dengan fokus utama menjaga kualitas lingkungan.
“Kami fokus pada penataan yang rapi, kebersihan, dan keamanan pengunjung. Yang paling utama adalah menjaga debit dan kualitas air tetap stabil,” jelasnya.
Ia menambahkan, geliat ekonomi mulai terlihat dari aktivitas warga yang membuka warung kecil, jasa parkir, hingga penyedia konsumsi saat kegiatan komunitas berlangsung di lokasi wisata.
“Kami ingin wisata ini menjadi penggerak ekonomi lokal, bukan hanya tempat singgah,” tambahnya.
Selain fungsi wisata, Sumber Takir juga dimanfaatkan sebagai ruang publik. Sejumlah kegiatan seperti senam sehat, pertemuan warga, dan agenda sosial rutin digelar, sehingga kawasan ini berperan sebagai pusat interaksi sosial di desa.
Ke depan, pengembangan diarahkan pada penambahan fasilitas pendukung tanpa mengubah karakter alami kawasan. Pemerintah desa dan pengelola menekankan penataan dilakukan secara terukur, dengan konsep sederhana: memaksimalkan potensi alam sekaligus menjaga keberlanjutan mata air.
Dengan pengelolaan kolaboratif serta visi yang berorientasi kelestarian, Sumber Takir terus diproyeksikan sebagai destinasi wisata desa yang tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi juga memberi dampak nyata bagi ekonomi dan kebersamaan warga. (may)
