Petani Gembira, Harga Gabah di Kutorenon Tembus Rp7.500/Kg
Lumajang (mediacenterlumajang.com) – Menjelang akhir tahun 2025, petani di Desa Kutorenon merasakan peningkatan pendapatan seiring menguatnya harga gabah pada musim panen terakhir.
Harga gabah kering panen (GKP) di desa tersebut dilaporkan berada pada kisaran Rp7.500 per kilogram, lebih tinggi dibanding periode panen sebelumnya dan tercatat berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Kenaikan harga tersebut disambut positif oleh petani karena terjadi di tengah panen musim penghujan. Selain harga menguat, kualitas gabah juga dinilai cukup baik dengan bobot panen yang masih memenuhi harapan petani.
Sejumlah petani menyebut salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga adalah pasokan gabah yang menurun akibat terbatasnya jumlah panen di beberapa wilayah. Kondisi itu menyebabkan stok di pasar berkurang sementara permintaan relatif stabil.
Salah satu petani Desa Kutorenon, Abdillah, mengatakan panen tahun ini membawa kabar baik bagi keluarganya. Saat ditemui di sawahnya pada Senin, 22 Desember 2025, ia mengaku bersyukur karena hasil panen cukup menggembirakan meski cuaca sedang memasuki musim hujan.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Panen gabah kali ini hasilnya cukup baik dan harganya juga tinggi meskipun di musim hujan. Ini sangat membantu ekonomi keluarga kami,” ujar Abdillah.
Abdillah juga menilai kebijakan pemerintah lewat penetapan HPP memberi perlindungan bagi petani agar tidak menjual gabah di bawah harga yang dianggap layak. Ia menyebut HPP menjadi jaring pengaman saat harga pasar berpotensi berfluktuasi karena produksi yang tidak menentu.
“Alhamdulillah sekarang petani lebih tenang. Dengan adanya HPP Rp6.500 per kilogram, kami tidak lagi khawatir harga jatuh seperti dulu. Ini sangat membantu petani,” tambahnya.
Meski demikian, Abdillah berharap stabilitas harga gabah tetap terjaga agar petani diuntungkan tanpa membebani konsumen. Ia juga mengingatkan nilai sosial dalam hasil panen yang diterima petani.
“Yang tidak kalah penting, hasil panen ini hendaknya disertai dengan menunaikan zakat dan berbagi kepada sesama agar usaha pertanian kita mendapat keberkahan dari Allah SWT,” pungkasnya.
Kenaikan harga gabah di Desa Kutorenon ini diharapkan menjadi angin segar bagi sektor pertanian di daerah, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi desa menjelang penutupan tahun 2025. (may)
