Keren! Lumajang Raih Penghargaan Tertinggi dalam Ketahanan Peternakan dan Pengendalian Penyakit Hewan
Lumajang (mediacenterlumajang.com) – Pemerintah Kabupaten Lumajang kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor peternakan dan mengendalikan Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) dengan meraih empat penghargaan bergengsi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pengakuan ini menjadi indikator nyata bahwa Lumajang berhasil menunjukkan kinerja yang unggul dalam aspek teknis, administratif, dan edukatif di bidang peternakan.
Penyerahan penghargaan berlangsung dalam Rapat Evaluasi Akhir Penanganan PHMS dan Pembangunan Peternakan Jawa Timur 2025 yang diadakan di Surabaya pada 2 Desember 2025.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dan Ketua Satgas Penanganan PMK, Adhy Karyono, menyerahkan penghargaan tersebut kepada Retno Wulan Andari selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Lumajang.
Ini menegaskan posisi Lumajang sebagai daerah dengan respons yang tangguh dan terukur terhadap ancaman penyakit hewan.
Retno mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan cerminan dari sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, peternak, dan tenaga medis. “Kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, peternak, dan petugas lapangan merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas sektor peternakan,” katanya.
Lumajang berhasil meraih penghargaan dalam empat kategori, yaitu:
- Peringkat I Kabupaten dengan Kinerja Vaksinasi PMK Terbaik di Jawa Timur.
- Apresiasi Kabupaten dengan Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Melalui Penggunaan SKKH.
- Juara Harapan I Lomba Video/Film Pendek Edukasi Pengendalian PMK.
- Peringkat VI Kabupaten dengan Kontribusi PAD Terbaik dari Layanan SKKH.
Keberhasilan Lumajang dalam vaksinasi PMK mencerminkan respon yang cepat dan tepat dalam perlindungan kesehatan hewan, yang menjadi prioritas dalam preventif terhadap lonjakan kasus yang dapat berdampak pada ekonomi peternakan.
Dengan program vaksinasi yang terencana dan intensif, Lumajang menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut efektif dalam menanggulangi risiko penyakit.
Selanjutnya, kontribusi PAD melalui penggunaan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) menjadi bukti keberhasilan tata kelola administrasi kesehatan ternak. Tingginya kesadaran peternak dalam menggunakan dokumen tersebut menunjukkan komitmen terhadap kesehatan ternak yang diperdagangkan.
Di sisi lain, inovasi edukasi melalui film pendek juga menjadi buktinya bahwa Lumajang tidak hanya berfokus pada tindakan teknis, tetapi juga pada peningkatan kesadaran masyarakat. Edukasi visual yang mudah dipahami menjadi alat penting dalam menyebarluaskan informasi tentang kesehatan hewan, terutama bagi peternak di tingkat lokal.
DKPP Lumajang mengambil sejumlah langkah proaktif dalam penanganan PMK. Ini termasuk pelaksanaan vaksinasi massal, pengobatan terstruktur, penyemprotan disinfektan secara rutin di pasar hewan dan kandang, serta pengawasan ketat terhadap lalu lintas ternak.
Langkah strategis seperti penutupan sementara pasar hewan di saat risiko penularan meningkat juga menunjukkan kebijakan preventif yang tegas, meskipun dapat berdampak pada ekonomi jangka pendek.
“Keberhasilan ini menunjukkan konsistensi kami menjaga kesehatan hewan dan membantu peternak menghindari kerugian. Komitmen kami tetap sama: melindungi ternak, menjaga produktivitas, serta memastikan ekonomi peternak terus berlanjut,” ujarnya.
Melihat ke depan, DKPP Lumajang berencana untuk memperkuat sistem surveilans penyakit, memperluas layanan kesehatan ternak, serta meningkatkan edukasi agar peternak lebih paham tentang biosekuriti.
Dengan pencapaian ini, Lumajang telah membuktikan diri sebagai daerah yang mampu membangun ketahanan peternakan secara komprehensif.
Kombinasi antara pendekatan teknis, edukasi publik, dan tata kelola administrasi yang baik menjadi kunci keberhasilan, dengan kolaborasi antara pemerintah dan peternak sebagai pendorong utama bagi stabilitas pangan lokal di masa mendatang. (may)
