7 Bahaya Awan Panas Guguran Erupsi Semeru dan Langkah Penanganannya

0
7 Bahaya Awan Panas Guguran Erupsi Semeru dan Langkah Penanganannya

Lumajang (mediacenterlumajang.com) – Warga masih terlihat memasuki zona merah Semeru untuk mengambil foto dan video setelah erupsi terjadi. Padahal, kawasan terdampak awan panas guguran (APG) adalah area paling berbahaya dan wajib steril dari aktivitas apa pun.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai bahaya APG dan apa yang harus dilakukan jika terpapar.

1. Suhu Ekstrem yang Dapat Menyebabkan Kematian Seketika

Awan panas guguran membawa campuran gas, abu, dan material vulkanik bersuhu sangat tinggi. Suhunya dapat mencapai 600–800°C, mampu membakar kulit dan jaringan tubuh hanya dalam beberapa detik.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam data menyebut, APG dapat meluncur cepat dan memiliki panas mematikan yang tak bisa dilawan manusia. Inilah alasan zona merah harus dikosongkan sepenuhnya.

2. Aliran Berkecepatan Tinggi yang Sulit Dihindari

APG dapat bergerak hingga 200–300 km/jam, mengikuti lembah, sungai, dan jalur curam. Kecepatan ini membuat warga tidak mungkin berlari menghindar.

Siapa pun yang berada di jalurnya, termasuk warga yang sekadar “melihat-lihat” atau mengambil konten, berada dalam risiko langsung terkena APG>

3. Risiko Luka Bakar dan Cedera Serius

Suhu ekstrem APG menyebabkan luka bakar tingkat berat.

Dr. Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar FKUI, menegaskan bahwa korban awan panas mungkin membutuhkan tindakan medis seperti bronkoskopi karena trauma inhalasi serta luka bakar yang luas.

Luka bakar akibat APG jarang bisa diselamatkan jika korban terlambat dievakuasi.

4. Gangguan Pernapasan Akut akibat Abu dan Gas Beracun

Gas panas dan abu halus dalam APG dapat merusak saluran pernapasan hanya dengan satu kali hirupan.
Laporan dari Kemenkes RI menyebut APG dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga henti napas, sehingga evakuasi cepat saat peringatan bahaya adalah langkah terpenting.

5. Kerusakan Lingkungan dan Infrastruktur

Awan panas merobohkan bangunan, menumbangkan pepohonan, dan menimbun permukiman dengan material tebal. Endapan ini masih menyimpan panas dan membuat area sekitar tetap berbahaya meski awan panas sudah berlalu.
Inilah sebabnya petugas tidak pernah mengizinkan warga kembali terlalu cepat ke lokasi terdampak.

6. Ancaman Sekunder: Banjir Lahar Dingin

Setelah APG, hujan dapat menggerus endapan material dan membentuk banjir lahar yang membawa batu, lumpur, dan pasir dalam volume besar.

Wilayah yang sebelumnya tidak tersapu APG pun dapat terdampak banjir lahar, sehingga risiko bencana berlangsung lebih lama dari erupsi awal.

Baca juga: Bupati Lumajang Perpanjang Status Tanggap Darurat Pasca Erupsi Gunung Semeru

7. Abu Vulkanik Menyebabkan Masalah Kesehatan Berkepanjangan

Abu vulkanik yang terbawa APG bisa menyebar jauh. Abu ini dapat merusak mesin kendaraan, atap bangunan, hingga memicu penyakit saluran napas, iritasi mata, dan gangguan kulit.

Membersihkan abu tanpa masker atau kacamata pelindung sangat berbahaya bagi kesehatan.

Langkah Penanganan Jika Terkena Awan Panas Guguran

Berikut tindakan darurat yang direkomendasikan ahli dan lembaga kebencanaan jika Anda terkenda APG:

1. Segera menjauh dari lembah dan aliran sungai.

Arahkan diri ke tempat tinggi atau bangunan kokoh.

2. Jika tidak sempat lari jauh, lindungi pernapasan.

Gunakan masker atau kain basah, tundukkan badan, dan lindungi wajah serta mata.

3. Cari perlindungan dalam bangunan kuat atau ruang tertutup.

4. Setelah APG berlalu, jangan kembali ke lokasi sebelum petugas mengizinkan.

5. Jika mengalami luka bakar, sesak napas, atau iritasi berat, segera ke fasilitas kesehatan.

Memasuki zona merah erupsi Semeru untuk mengambil konten bukan hanya tindakan berisiko, tetapi juga menempatkan nyawa dalam bahaya ekstrem. Awan panas guguran adalah fenomena paling mematikan dalam erupsi gunung api, sehingga setiap warga wajib mematuhi instruksi petugas dan menjauhi lokasi berbahaya. (may)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *